Sharing for learn...

Jumat, 12 September 2014

Felix Siauw on Copyrights (Hak Cipta) Dalam Islam

Jumat, September 12, 2014 Posted by ./rex No comments
Beberapa waktu ini saya diberi pertanyaan, bagaimana pandangan Islam terhadap hak cipta atau hak kekayaan inteletktual (copyrights dan intellectual property). Karena berkaitan dengan dunia ilmu,banyak akhirnya yang harus memanfaatkan barang-barang bajakan (piracy) seperti CD, DVD, buku dan media lainnya. Nah, saya dengan ilmu saya yang sedikit, kita akan coba bedah.

Sebagai dasar, kita harus mengetahui bahwa segala ilmu di dunia ini adalah milik Allah, karena dari Allah-lah segala ilmu dan Allah pula yang mengajari manusia segala bentuk ilmu. Sedangkan manusia hanya menguak (discovering) saja, bukan menciptakannya (creating). Allah menegaskan dalam kitab-Nya.

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (TQS Al-Alaq [96]: 3-5)

Dan Dia mengajarkan kepada Adam nama-nama (benda-benda) seluruhnya… (TQS Al-Baqarah [2]: 31)

Allah menciptakan segala sesuatu dan Dia memelihara segala sesuatu. (TQS Az-Zumar [39]: 62)

Jadi, tidak haq dalam Islam, seseorang yang menganggap suatu ide, pengetahuan atau ilmu adalah miliknya sehingga setiap orang harus meminta izin atau memberikan kompensasi atas hal itu. Karena hakikatnya ilmu itu telah ada sebelumnya, dan dia hanya menguaknya (discovering) saja.

Jadi, sebuah ilmu tidak bisa digolongkan sebagai hak milik atau harta pribadi, sehingga boleh diperjualbelikan dan dijadikan sebagai alat untuk mengambil kompensasi. Karena ia adalah milik semua kaum Mukmin.

Hikmah laksana hak milik seorang mukmin yang hilang. Di manapun ia menjumpainya, di sana ia mengambilnya (HR. Al-Askari dari Anas ra)

Lagipula, tanpa kita sadari, hak kekayaan intelektual sesungguhnya adalah alat penjajah untuk mencegah ummat Islam lebih maju darinya. Bayangkan, bagaimana mungkin kita bisa berada di depan bila kita ditahan untuk maju kedepan?

Berbeda hukumnya dengan mengklaim karya orang lain sebagai miliknya, atau merubah karya orang lain tetapi tetap dinisbatkan pada pemilik karya. Maka ini adalah haram, karena termasuk penipuan.

Misal, menjiplak buku karya orang lain dan menisbatkan pada namanya, atau mengubah isi buku orang lain tetapi tetap dinisbatkan pada nama orang itu. Ini berarti penipuan dan fitnah, dan tentu saja hal semacam ini tidak diperkenankan dalam Islam berdasar dalil-dalil umum tentang haramnya penipuan.

Maka di dalam Islam, merk (brand) dagang diperbolehkan, dan akan diatur supaya satu merk hanya diberikan pada satu penanggung jawab, untuk memudahkan bila ada yang ingin meminta pertanggungjawaban terhadap produk atau karya tersebut.

Barang siapa telah lebih dahulu mendapatkan sesuatu yang mubah (halal) maka dialah yang lebih berhak atasnya (HR Baihaqi dan Daruquthni)

Jadi, Islam sangatlah menghormati intelektualitas, bahkan menyuruh agar kaum Muslim berlomba-lomba untuk melakukan intellectual discovery via pendidikan, pembelajaran dan penelitian. Dan kejayaan Islam dari abad 8 – 15 sudah menunjukkan hal itu. Dan penghargaan terhadap ilmuwan dan cendekiawan pun sangat istimewa dibandingkan peradaban lain pada zamannya, belum lagi penghargaan dari Allah.

niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat (TQS Al-Mujaadilah [58]: 11)

Barangsiapa berjalan untuk menuntut ilmu maka Allah akan memudahkan baginya jalan ke surga (HR. Muslim)

Kesimpulannya
  • Halal hukumnya memanfaatkan barang-barang bajakan seperti CD, DVD, buku ataupun media lainnya, karena hak cipta hanyalah milik Allah (All rights reserved only by Allah), dan semua ilmu berasal dari-Nya dan Allah telah mewajibkan kita mencari dan menuntut ilmu.
  • Haram hukumnya menjiplak (copycat) dengan merubah isi atau mengklaim karya itu miliknya sendiri atau milik selain yang berkarya. Tidak diperkenankan pula memakai merk (brand) yang sama yang telah digunakan oleh saudara kita yang lain.
  • Haram menganggap ilmu sebagai milik pribadi dan meminta kompensasi darinya. Tapi halal menjual atau meminta kompensasi atas produk hasil intelektual (buku dan CD misalnya). Artinya yang dijual bukan ilmu, tapi produknya.

Sebagai pertimbangan terakhir, bila karya itu adalah karya seorang Muslim yang telah mencurahkan usaha yang tidak sedikit, tentu secara etika tidak pantas kita membajaknya. Dan selagi kita masih memiliki kemampuan, maka belilah produk-produk asli, bukan yang bajakan. Karena tentunya ia akan membantu orang yang berkarya. Juga membantu agar dia bisa terus berkarya untuk ummat.



Source http://goo.gl/Cqj5Ws

Islam : Dari Magis Jadi Sains, Dari Fakir jadi Mikir

Jumat, September 12, 2014 Posted by ./rex No comments
Masih ingat sama The Philosopher’s Stone yang bisa mengubah batu menjadi emas murni atau ramuan Elixir yang bisa menghidupkan orang mati? Tentu, siapapun yang menyukai Novel, pembahasan yang paling eksis semenjak Harry Potter dirilis adalah pembahasan tentang sihir atau Alchemist. Lebih dari puluhan novel fiksi-ditulis tentang proses transmutasi batu menjadi emas yang dikatalisasi Philosopher’s Stone, dan terkenallah tokoh-tokohnya mulai dari Merlin the Magician, Albertus Magnus, Thomas Aquinas, Nicholas Flamel yang katanya sampai hari ini masih hidup (?), sampai Edward dan Alphonse Elric dalam Manga Fullmetal Alchemist.

Padahal, jauh sebelum itu semua, ilmuwan Islam Jabir Ibnu Hayyan (721 – 815) yang lebih dikenal sebagai Geber dalam tradisi Barat telah memulai penelitiannya tentang kimia – الكيميائ (bahasa Inggris Alchemist berasal dari sini). Beliau memberikan sumbangan besar bagi kimia, yang akan diteruskan oleh Ar-Razi (Rhazes), Al-Kindi (Alkindus) dan Ibnu Sina (Avicenna), yang kesemuanya dianggap pionir kimia, tentu saja Jabir Ibnu Hayyan sebagai Bapak Kimia.



Jauh pula sebelum gonjang-ganjing Alchemist, Jabir juga telah meneliti kemungkinan batu menjadi emas. Dia mengelompokkan benda menjadi 4 elemen, panas, dingin, kering dan basah. Emas misalnya dikelompokkan panas dan basah, sedangkan batu karbon dikelompokkan dingin dan kering, dan meyakini bahwa dengan mengubah elemen, maka benda bisa diubah dari satu bentuk menjadi lainnya (transmutasi). Dan dia pun meyakini bahwa transmutasi ini akan bisa terjadi apabila ada ramuan katalis yang disebut الإكسير (Elixir bahasa Inggris juga berasal dari sini)

Terlepas berhasil atau tidaknya Jabir, “beberapa abad kemudian setelah kematiannya, dalam pembangunan jalan besar di Kufah, laboratoriumnya ditemukan kembali, dan di dalamnya ditemukan sebuah mangkuk dah sebongkah emas (History of The Arabs h, 476)”. Jangan kaget, ini bukan berarti Jabir telah menemukan Philosopher’s Stone dan Elixir, tapi lebih mungkin karena beliau telah menemukan aqua regia (cairan yang dapat melarutkan logam, termasuk emas) dari asam sulfur dan asam nitrat yang dicampur dengan garam, yang masih digunakan dalam ekstraksi emas pada masa kita.

Yang perlu saya tekankan disini, bahwa di masa Islam, pembahasan tentang sains jauh dari hal bersifat magis ataupun takhayul. Ibnu Sina yang hidup abad berikutnya mengkritik para Alchemist yang percaya dengan takhayul semacam mengubah batu menjadi emas, sebagaimana yang telah dibuktikan oleh Jabir Ibnu Hayyan abad sebelumnya.

Dan bisa pula kita lihat bahwa Jabir Ibnu Hayyan dengan daya kreativitas yang luar biasa menjadikan pembahasan transmutasi dari magis menjadi sains. Dia memberikan pada kita sumbangsih besar dalam ilmu kimia, yang beliau ubah jadi magis menjadi sains pula. Beliau menyempurnakan proses kristalisasi, distilasi, kalsinasi, sublimasi dan penguapan serta pengembangan instrumennya. Beliau juga telah merintis Hukum Perbandingan Tetap yang menjadi inspirasi bagi Proust.



Tidak kurang dari 3.000 risalah ditulis beliau dalam berbagai aspek ilmu pengetahuan, dan buku-buku yang juga mempengaruhi semua ilmuwan kimia barat, diantaranya Kitab Al-Kimya, Kitab As-Sab’een (Kitab 70), Kitab Al-Tajmi’ (Kitab Konsetntrasi), sampai Kitab Ar-Rahmah (Kitab Cinta).

Begitulah Islam membangkitkan sains



Source http://goo.gl/VV753x

Power of Perception : Reason Synthetically or Analytically

Jumat, September 12, 2014 Posted by ./rex No comments
There are fifty who can reason synthetically for one who can reason analytically (Sherlock Holmes – Study in Scarlet)

Geli rasanya ketika kita melihat banyak sekali pejuang-pejuang Islam yang membenarkan tindakannya bukan mencari sesuatu yang benar, dan sepertinya ini sudah menjadi sebuah sindrom yang mewabah akibat daripada salahnya persepsi seseorang terhadap suatu masalah. Saya tidak menulis hal ini untuk dijadikan sebagai suatu pembahasan yang tak kunjung habis dengan perdebatan yang panjang, tetapi hanya sebagai nasehat yang kalau dirasa benar silahkan diterapkan dan bila salah mohon diabaikan saja.

Betul kata tokoh imajinatif Sherlock Holmes, “There are fifty who can reason synthetically for one who can reason analytically”

Kira-kira terjemahan bebas versi Felix Siauw “Ada 50 orang yang dapat membuat alasan, dan hanya satu yang berbuat beralasan”.

Kebanyakan dari kaum muslim tanpa sadar ternyata bukan berbuat karena mereka memiliki alasan (dalil) tetapi sebaliknya mereka mencari alasan atas perbuatannya. Coba kita analisis pola-nya :

  • Suatu hari Nada berkonsultasi dengan kedua orangtuanya tentang pernikahan, dan Nada memberitahukan bahwa Ahmad calon suaminya adalah orang yang sedikit kekurangan dalam masalah materi, dasar kedua orangtuanya tidak menyukai Ahmad karena keadaan materinya lalu berbicara

    Sekarang aja dia nggak bisa menghidupi dirinya sendiri, apalagi nanti setelah nikah?! nggak usah deh!


    Nada yang kecewa lalu menasihati agar Ahmad mau memperbaiki keadaan ekonominya, lalu setahun lagi Ahmad datang dengan mobil pribadi kerumah sang calon, tetapi dasar kedua orangtuanya sudah punya persepsi negatif tentang Ahmad lalu mereka mengatakan :

    Sekarang dia memang mungkin bisa menghidupi dirinya sendiri, tapi nanti ketika menikah belum tentu!!” (capeee deh -red-)


  • Suatu hari Dewi mengajak calonnya Dewa untuk berkenalan dengan orangtuanya, dan Dewa sangat menunjukkan kesopanan dan kebaikan sebagai seprang pria, tetapi karena orangtuanya tidak suka pada Dewa orangtuanya berkata :

    Sekarang aja dia sopan, karena belum nikah, nanti kalau sudah nikah pasti keliatan sifat aslinya!


    seandainya kalo Dewa seorang pria yang urakan dan sembarangan, kira-kitra beginilah komentar orangtuanya :

    Sekarang aja udah begitu urakannya, apalagi nanti?!!! (capeee deh -red-)


  • Berbeda dengan Keluarga Fatih yang begitu memahami Islam dan menjadikan Islam sebagai jalan hidup, maka ketika Aisyah mengenalkan calonnya yaitu Mahmud kepada orangtuanya, dan memperkenalkan tentang Mahmud dan aktivitas dakwahnya, serta menyampaikan pula kekurangan Mahmud dalam hal materi, maka kedua orangtuanya segera berkomentar :

    Nggak apa-apa Aisyah, lebih baik segera menikah supaya bertambah ibadahnya dan dijauhkan dari maksiat, masalah materi insya Allah akan dicukupkan oleh Allah, wong bapak-ibu nikah juga kere kok!


    ketika seminggu sebelum nikah, Mahmud berhasil dalam usahanya sehingga mendadak punya mobil pribadi, maka orangtua Aisyah berkata :

    Alhamdulillah, kamu beruntung Aisyah, Allah memudahkan calon suamimu sekarang bisa berkecukupan, apalagi nanti setelah menikah


Inilah kekuatan persepsi, Persepsilah yang menentukan perbuatan seorang manusia dan caranya menanggapi suatu peristiwa. Persepsi bisa jadi baik, bisa jadi buruk, tergantung apa yang menjadi penyusunnya. Bila penyusunnya baik, insya Allah persepsinya juga baik. Sebaliknya, bila penyusunnya salah, maka persepsinya juga terimbas kurang baik.

Terkadang saya sering bingung dan geli melihat hamba Allah yang insya Allah pejuang Islam, tetapi persepsi yang dibangun bukanlah persepsi yang benar, yaitu persepsi yang dibangun berdasarkan dalil al-Qur’an dan as-Sunnah. Kebanyakan persepsinya berasal dari retorika akal belaka minus dalil. Beberapa waktu yang lalu saya pernah membahas tentang kebobrokan demokrasi, eh malah ada yang menimpali dengan kata-kata untuk melegitimasi bobroknya demokrasi :

“wajarlah mas, kita ini masih dalam proses pembelajaran demokrasi, nggak ada yang sempurna, kita masih proses belajar” (belajar sih belajar, tapi ini mah belajar terus! demokrasi gagal ancur dipertahanin padahal kalo Islam salah dikit aja pasti protesnya dari pagi ampe malem -red-)


Pernah juga saya mengkritik pernyataan seorang tokoh muslim yang mengatakan “jilbab nggak penting, pake jilbab juga nggak bisa menyelesaikan masalah ekonomi, politik dll”, dan saya sampaikan tidak pantas seorang muslim, tokoh lagi, berkata semacam ini, tetapi ternyata ada yang protes dan melegitimasi tindakan tokoh tadi dengan mengatakan:

“sesama muslim sebaiknya jangan saling menyalahkan, saya heran kenapa kita ini suka menyalahkan yang lain, orang yahudi seneng liat kita, kita hargai dong, itu kan cuma strategi, orangnya juga sering tahajud dan dzikir kok!” (loh-loh-loh, capee deh!, blame the victim nih, wong tokohnya yang omong secara sadar, kok malah gue yang disalahin hehehe.. padahal kita aja yang nggak salah jadi disalah-salahin -red-)


Ketika saya menjelaskan kembali bahwa ada beberapa yang salah dalam perbuatan seseorang, dan dalilnya sudah saya kemukakan secara jelas, tetap saja ada alasan yang bisa dibuat untuk melegitimasi perbuatannya. Benar sekali, ternyata persepsilah yang mengendalikan semuanya. Alasannya selalu akal-akal dan akal, padahal imam Ali sudah mengingatkan kepada kita bahwa pembentuk persepsi adalah dalil bukan akal

لَوْ كَانَ الدِّيْنُ بِالرَّأْيِ لَكَانَ أَسْفَلُ الْخُفِّ أَوْلَى بِالْمَسْحِ مِنْ أَعْلاَهُ
Seandainya agama itu dengan akal niscaya yang lebih pantas diusap adalah bagian bawah khuf daripada bagian atasnya (HR. Abu Dawud)

Masih banyak contoh lain yang kita bisa lihat bahwa seseorang menyandarkan persepsinya bukan dari al-Qur’an dan as-Sunnah, tetapi dari “katanya”, “kata syaikh saya”, “kata dewan syuro saya”, “pokoknya” dan lain lain, padahal sudah jelas sekali fakta yang ada. Dan jangan-jangan kita termasuk salah satu yang sering membuat-buat alasan dengan perbuatan kita yang salah, padahal telah jelas firman Allah

الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ
yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS az-Zumar [39]: 18)

Pilihannya selalu ada dua:
  • apakah kita adalah orang yang membuat-buat alasan (dalil)
  • atau kita adalah orang yang berbuat karena ada alasan (dalil)
Life is always a series of choices, make the right choice not to compromise with the kuffar!
akhukum fillah,



Source http://goo.gl/qOzxaU

Kamis, 04 September 2014

Cerita Tentang Rokok...

Kamis, September 04, 2014 Posted by ./rex , No comments
Dialog Antara Syeikh dan Guru tentang Rokok Yuk simak dialognya...

GURU : “Syeikh, menurut saya rokok itu tidak haram.”

Syeikh : “Kenapa?”

Guru : “Tak ada dalilnya. Saya ingin tahu, satu ayat saja yang menyebutkan ‘diharamkan atas kalian rokok’.”

Syeikh : “Apakah Anda makan jeruk, apel, maupun pisang?”

Guru : “Iya.”

Syeikh : Apakah” ada ayat yang menyebutkan bahwa jeruk, apel maupun pisang itu halal?”

Guru : “Tidak ada.”

Syeikh : “Bagaimana tidak ada, bagaimana Al Qur’an tidak menyebutkan mana yang halal dan mana yang haram, padahal Qur’an itu pedoman umat. Coba perhatikan firman Allah Ta’ala dalam surat al-A’raf : (Yaitu) orang-orang yang mengikut Rasul, Nabi yang ummi yang (namanya) mereka dapati tertulis di dalam Taurat dan Injil yang ada di sisi mereka, yang menyuruh mereka mengerjakan yang ma’ruf dan melarang mereka dari mengerjakan yang mungkar dan MENGHALALKAN bagi mereka segala yang BAIK dan MENGHARAMKAN bagi mereka segala yang BURUK..(QS al A’raf 157).”

“Maka segala yang baik semisal daging, jeruk, apel, susu dan lain lain itu termasuk yang baik-baik sehingga termasuk yang dihalalkan. Adapun yang buruk-buruk, maka Allah mengharamkannya.”

Guru : “Menurut kami, rokok itu termasuk thayyibaat (yang baik-baik), meskipun menurut Anda tidak baik.”

Syeikh : “Anda punya istri?”

Guru : “Ya…”

Syeikh : “Anda punya anak?”

Guru : “Ya …”

Syeikh : “Jika kaulihat anakmu mengunyah permen, apakah kamu ridha?”

Guru : “Ya, tidak masalah…”

Syeikh : “Kalau kaulihat anakmu sedang menghisap rokok, apakah kamu ridha?”

Guru : “Tidak…”

Syeikh : “Kenapa?”

Guru : “Karena itu tidak baik (yakni termasuk sesuatu yang buruk).”

Syeikh : “Jika itu sesuatu buruk, bukankah masuk yang haram? Bagaimana pula jika yang merokok itu istrimu?”

Tiba-tiba sang guru mengeluarkan bungkusan rokok dari sakunya, ia meremas dengan tangannya lalu menginjak dengan kakinya, lalu ia berkata, “Mulai sekarang wahai Syeikh, saya bertaubat kepada Allah dari rokok.”

SUBHANALLAH "Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah)." (QS Al-Baqarah : 269)



Source http://goo.gl/jpmvKW

Rabu, 03 September 2014

2012 Kiamat: Nggak Penting Banget Sih!

Rabu, September 03, 2014 Posted by ./rex No comments
Bener-bener susah berhadapan dengan bangsa ultra-latah dan super-klenik, semua yang berbau klenik laku bak kacang goreng di pasaran. Mulai dari setan yang paling banyak variannya (tante kunti, om pocong, suster ngesot, jenglot, gendruwo, buto ijo, wewe gombel, sampe hantu jeruk purut). sms-an reg_RAMAL, reg_MAMAH, reg_BODOH, reg_SORO dan lainnya bagaikan jamur di musim hujan.

Bahkan pemahaman agama pun di-klenikisasi sehingga agama yang laku adalah agama yang berbau klenik, yang kyainya punya karomah bagi badan jadi dua satu di makkah satu di desa katanya, yang ustadznya punya wiridan manjur mencari rizqi katanya, itulah yang akan laku di bangsa klenik. Termasuk tentang isu santer saat ini: 2012 kiamat! XD~ LoL

Sebenernya saya nggak mau khusus menjawab ini, tapi sepertinya lama-lama jadi perlu juga berhubung banyak yang tanya, jadi sekalian bikin note biar besok- besok ada yang tanya tinggal kopi-paste link heheheh..

“ustadz, ada yang bilang 2012 kiamat, bener gak ustadz di dalam Islam?”
“ustadz, itu kan sesuai dengan pendapat ilmuwan-ilmuwan yang ahli dibidangnya, bla, bla, bla, jadi bisa aja kan terjadi?”
“ustadz, menurut skenario global warming, 2012 kiamat karena es kutub mencair, bla, bla, bla, dan alien akan datang, bla, bla, bla”

Dalam Islam jelas sekali, Islam menjadikan yaumil qiyamah (hari kiamat) sebagai salah satu rukun iman, dimana kita hanya diwajibkan yakin dan beriman pada-Nya, bukan memikirkannya. Kenapa? karena Allah telah membagi-bagi yang mana yang harus diyakini dan yang mana yang boleh dipikirkan. Dalam perkara-perkara yang faktanya terindera oleh manusia, maka Allah pasti menyuruh kita memikirkannya

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (QS ali Imraan [3]: 190)

tapi dalam perkara-perkara yang faktanya tidak bisa terindera manusia maka Allah pasti meminta kita untuk meyakininya dan mengimaninya saja

(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib (QS al-Baqarah [2]: 3)

Hari kiamat sendiri adalah termasuk hal yang ghaib yang tidak dapat diindera faktanya oleh manusia,oleh karena itu Allah hanya memerintahkan kita untuk mengimaninya dan mengambil pelajaran dengan hari kiamat itu. Dan sekalipun Allah tidak pernah meminta kita untuk memikirkan tentang waktunya.

Oleh karena itu, memikirkan kapan terjadinya kiamat, bersibuk diri dengan menghitung kapan hari kiamat adalah perkara yang sia-sia bagi kaum mukmin, karena hal itu tidak diperintahkan oleh Allah untuk dipikirkan tetapi untuk diyakini. Apalagi mempercayai kabar-kabar tentang datangnya hari kiamat dan ramalan-ramalannya, maka hal ini malah termasuk musyrik karena Allah sendiri telah berpuluh-puluh kali di dalam al-Qur’an menyampaikan kepada kita bahwa kiamat adalah hak-Nya, pengetahuan-Nya dan rahasia-Nya.

Artinya meyakini hal yang bukan datang dari Allah sama saja kita mencari sekutu selain Allah, naudzubillahi min dzalik.Diantara banyak ayat-ayat al-Qur’an tentang kiamat, ada satu ayat yang sangat mewakili pembahasan kita:

Mereka menanyakan kepadamu tentang kiamat: “Bilakah terjadinya?” Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu adalah pada sisi Tuhanku; tidak seorangpun yang dapat menjelaskan waktu kedatangannya selain Dia. Kiamat itu amat berat (huru haranya bagi makhluk) yang di langit dan di bumi. Kiamat itu tidak akan datang kepadamu melainkan dengan tiba-tiba”. Mereka bertanya kepadamu seakan-akan kamu benar-benar mengetahuinya. Katakanlah: “Sesungguhnya pengetahuan tentang bari kiamat itu adalah di sisi Allah, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”. (QS al-A’raaf [7]: 187)

Sama ketika rasulullah pernah ditanya tentang kiamat:

Bahwa seorang Arab badui bertanya kepada Rasulullah saw.: Kapankah kiamat itu tiba? Rasulullah saw. bersabda: “Apa yang telah kamu persiapkan untuk menghadapinya?” Lelaki itu menjawab: “Cinta Allah dan Rasul-Nya”. Rasulullah saw. bersabda: “Kamu akan bersama orang yang kamu cintai”. (HR Muslim #4775)

Kedua dalil tersebut menunjukkan kepada kita bahwa pengetahuan tentang kiamat menjadi tidak penting karena itu pasti terjadi. Sesungguhnya yang harus dikhawatirkan manusia tentang hari kiamat bukanlah pada waktunya tetapi pada apa yang telah disiapkannya. Allah mengisyaratkan bahwa kiamat akan terjadi secara tiba-tiba (mendadak), yang berarti manusia tidak akan menyangka-nyangkanya. Hal ini agar manusia selalu menjadikan setiap aktivitasnya adalah untuk kebaikan di jalan Allah dan menyegerakan amal baiknya sebelum datang hari kiamat yang rasul isyaratkan sangat dekat sekali.

Jarak antara pengutusanku dan hari kiamat bagaikan dua jari ini.” [Kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat dengan jari tengah dan jari telunjuk] (HR. Muslim no. 7597)

Maka kiamat sama saja dengan kematian, selalu datang dalam saat-saat yang tidak terduga. Maka Allah sengaja menjaga waktunya tetap dalam kerahasiaan agar manusia senantiasa berbuat sesuai dengan syariat Islam dan menghindari maksiat dan larangan Allah karena mereka sadar bahwa kiamat bisa terjadi kapan saja, tidak dipatok pada waktu tertentu. Seandainya kiamat bisa diprediksi, maka manusia tidak akan memiliki niat menyegerakan dan kebaikan dan berlomba di dalamnya.

Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya) agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan (QS Thahaa [20]: 15)

Biarlah manusia berkata semaunya, toh telah terbukti manusia banyak bo’ongnya, apalagi berita datang dari orang fasik. virus Y2K tahun 2000 nggak terbukti, bencana Global Warming juga cuma isapan jempol, ramalan Nostradamus cuma jadi cerita dongeng. Semuanya tidak pantas diyakini.

Pertanyaannya sekarang, apa yang sudah kita persiapkan dalam keyakinan kita tentang hari kiamat yang pasti terjadi? Jika Arab badui tadi menjawab dengan mencintai Allah dan Rasul, dan dia masuk surga karena itu, maka harusnya kita juga sama. Bagaimana maksudnya mencintai Allah dan Rasul:

Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (rasul Muhammad), niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (QS ali-Imraan [3]: 31)

Saksikanlah ya Allah, aku mencintai-Mu dan rasul-Mu dan aku mengumumkan permusuhan bagi apapun yang Engkau dan Rasul-Mu memusuhinya.

aku merindukan hidup dalam totalitas syari’at-Mu dan aku mengumandangkan peperangan bagi aturan thaghut selain aturan-Mu.

aku membela bendera-Mu dan rasul-Mu dan aku akan menaruh selainnya dibawah kakiku.

aku mengasihi ummat-Mu dan rasul-Mu dan shahabatnya serta pejuangnya dan setiap pengemban dakwahnya, dan aku berharap bersama mereka kelak di surga-Mu aku memohon surga-Mu dan bertemu rasul-Mu dan aku benci masuk kedalam neraka-Mu sebagaimana aku benci kembali pada kekafiran.

Abdillah al-Faqir, Felix Siauw



Source http://goo.gl/mg2YT6

Dosa Kolektif

Rabu, September 03, 2014 Posted by ./rex No comments

Dalam sebuah sidang pengadilan umum, segerombolan pemabuk yang menjadi terdakwa dihadapkan ke meja hijau. Mereka ditanya oleh Pak Hakim,

“Mengapa kalian mabuk-mabukan? Apa kalian tak tahu itu melanggar hukum?”

“Kami biasa mabuk-mabukan karena begitu mudahnya kami mendapatkan miras yang dijual bebas. Kami tak akan mabuk kalau tak ada yang diminum. Kalau mau disalahkan, ya salahkan saja para penjual mirasnya, Pak Hakim,” jawab mereka enteng.

Di samping para pemabuk duduk berjajar para pedagang miras. Hakim bertanya kepada mereka, “Mengapa kalian menjual miras? Kalian tahu kan, miras itu merusak generasi kita!”

“Betul Pak Hakim,” jawab para pedagang miras. “Tapi, kami tentu tak akan menjual miras jika tak ada pabrik yang memproduksi dan menawari kami minuman memabukkan itu. Kami hanya penjual. Jika ada barang yang bisa dijual dan ada pembelinya, ya kami sediakan.

Yang penting kami untung. Kalau kami salah, harusnya Pak Hakim juga menyalahkan para pemilik pabrik miras itu.” Kata mereka sambil menunjuk kepada para pengusaha pabrik miras di sebelah mereka.

“Sebentar Pak Hakim,” kata para pengusaha pabrik miras itu. “Kami hanyalah para pengusaha. Selama ini usaha kami tak melanggar hukum. Toh, miras sudah dilegalisasi. Ada UU-nya. Jadi, jangan kami disalahkan, dong. Kalau mau disalahkan, ya Pemerintah dan para wakil rakyat. Mengapa mereka melegalisasi miras?!” Sergah mereka sebelum ditanya dan disalahkan Pak Hakim.

Pak Hakim kemudian berpaling kepada wakil dari Pemerintah dan para anggota DPR yang terhormat. “Mengapa Bapak-bapak kok bisa-bisanya mengeluarkan peraturan yang melegalisasi miras? Bukankah Bapak-bapak lebih tahu dampak buruk miras bagi generasi kita?” “Betul, Pak Hakim. Tapi, kalau tidak dilegalkan, akan banyak aneka jenis miras yang ilegal beredar di tengah-tengah masyarakat tanpa kontrol negara. Ini lebih berbahaya. Jadi, legalisasi miras juga demi mengontrol peredaran miras ilegal. Selain itu, miras legal kan tetap bisa mendatangkan keuntungan bagi negara dalam bentuk pajak miras. Lagi pula kami ini wakil rakyat. Kami punya kuasa penuh. Kami berhak membuat aturan apapun karena kami telah diberi mandat oleh rakyat. Salahnya rakyat, mengapa mau memilih kami dan menyerahkan mandat mereka kepada kami,” tegas para wakil rakyat yang diamini oleh wakil dari pihak Pemerintah.

Rakyat, yang juga bersaksi di pengadilan umum itu, tentu tak mau disalahkan. Buru-buru mereka membela diri, “Pak Hakim, kami sadar, ini negara demokrasi yang memberikan kewenangan kepada penguasa dan wakil rakyat untuk membuat aturan apapun. Kami pun tahu, jauh sebelum Pileg dan Pilpres, tak ada satu pun di antara para caleg serta capres-cawapres yang berkomitmen untuk menerapkan syariah Allah SWT.

Namun, kami toh harus tetap memilih mereka. Pasalnya, menurut MUI golput itu haram, sementara MUI tak mengharamkan kami memilih penguasa dan wakil rakyat yang tak mau menerapkan syariah Islam. Jadi, maaf, para ulama itu juga..apa tidak salah, Pa Hakim?” Tanya rakyat setengah menggugat sambil melirik ke arah wakil ulama yang duduk di depan mereka…



Source http://goo.gl/Z2T7VI

Selasa, 02 September 2014

Berjuang, Allah terangkan dalam Al-Qur'an

Selasa, September 02, 2014 Posted by ./rex No comments
Mengapa kami harus memperjuangkan agama ini ???
"Dan berjihadlah kamu pada jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan Dia sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan. (Ikutilah) agama orang tuamu Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian orang-orang muslim dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia, maka dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan berpeganglah kamu pada tali Allah. Dia adalah Pelindungmu, maka Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong." (QS. Al-Haj : 78)

Haruskah kami mendapat masalah yang selalu menghampiri???
"Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?" (QS. Al-Ankabut : 2)
"Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-Ankabut : 3)

Mengapa banyak hal yang tidak kami kehendaki,yang selalu menguji diri kami???
"Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al-Baqarah : 216)

The Struggle For Islam !!!

Mengapa beban ini selalu bertambah membelenggu langkah kami???
"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir." (QS. Al-Baqarah : 286)

Sampai kapan kami akan terus kehilangan semua yang kami cintai???
"Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar." (QS. At-Taubah : 111)

Akankah pertolongan ini datang jika kami berjuang???
"Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (QS. Muhammad : 7)

Bukankah kami orang-orang yang tidak berdaya untuk berjuang dijalan ini???
"Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran : 139)

Sebuah janji dari Allah SWT. akan lahirnya peradababan baru.

GLOBAL CAMPAIGN FOR KHILAFAH !!!

Waktu akan terus begilir.
Persipkan dirimu.
Mantapkan genggamanmu.
Sertakan ukhuwahmu.
Mari berjuang bersama.

SATU PEMIKIRAN,PERASAAN,PERATURAN

LAAILAAHA ILALLAH MUHAMMAD RASULULLAH !!!

lanjutkan perjuangan pendahulumu
*Khulafa ar Rasyidin
*Khalid Ibn Walid
*Shalahuddin al Ayub
*Thariq Ibn Ziyad
*Muhammad Al Fatih

Ingatlah masa kejayaan kita | Wujudkan masa itu kembali | Sebarkan Islam | Keseluruh penjuru Dunia | Ali Imran : 104 "Dan haruslah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar, merekalah orang-orang yang beruntung."



Source http://goo.gl/FxtqYx
Back to Top